Skip to content

❄ Titik Air ❄

17 Januari 2014

ia pernah turun sebagai hujan yang mengantar sunyi mengetuk-ngetuk kaca jendela, sebelum tergelincir dan jatuh ke tanah. pernah terserap ke sumber air, tersangkut di gayung penduduk kampung, terjerang panas api, tersekap dalam gua yang panjang berliku-liku, dan pada akhirnya terlempar, terbuang ke selokan.

pernah terpecah menjadi butiran kecil yang ringan, lalu mendaki langit lewat tangga cahaya.

ia pernah terseret arus yang kuat, pernah tergoda jadi kericik air pancuran, tapi terjelma sebagai embun yang runtuh menimpa bunga rumput, dan mendengar bunga itu membisikkan sesuatu, tapi matahari menghardiknya agar segera pergi sebelum ia sempat mengerti.

titik air itu tak tahu mengapa ia begitu cepat berubah, mengapa ia dapat begitu segera menyesuaikan diri di mana ia berada, mengapa ia begitu tak berdaya menolak kekuatan di luar dirinya yang membawanya kemana saja, tak tahu mengapa ia begitu mudah dipengaruhi warna, dan mengapa ia tetap disebut titik air apa pun yang terjadi pada dirinya, dan tak ingin mengetahui jawabnya.

ia hanya ingin berkesempatan bertemu bunga rumput itu sekali lagi, agar dapat mengerti maksud kata-kata yang begitu indah namun tak dapat tertangkap maknanya, tidak ingin tahu bahwa kepada setiap embun yang turun bunga rumput itu selalu membisikkan kata-kata yang sama, selamanya.
Image posted by MobyPicture.com
– Posted using MobyPicture.com

Iklan

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: